Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected
Minggu, 13 Maret 2016
Mengemis itu Baik atau Tidak?


Mengemis; Keinginan atau Keterpaksaan?



“Sekarang Mas, apa-apa serba menggunakan uang. Butuh ini harus menggunakan uang, butuh itu harus menggunakan uang, bahkan di kota ke kamar mandipun harus menggunakan uang”


         Itulah sedikit keluh kesah dari salah satu pengemis yang saya temui dan tampa sengaja kami mengobrol tentang segala hal termasuk ngobrol mengenai pekerjaannya. Memang, kalo di lihat dari perkembangn dunia kali ini sudah pada era dimana segala sesuatu harus menggunakan uang, tidak seperti masa-masa terdahulu yang semuanya tidak harus menggunakan alat tukar berupa uang. Dulu kita masih mengenal sama yang namanya BARTER ( tukar menukar benda dengan benda lain yang nilainya di angap sama). Barter kala itu masih menjadi primadona dalam hal transaksi mereka.


        Menurut Oscar Lewis, kemiskinan bukanlah semata-mata berupa kekurangan dalam ukuran ekonomi, tetapi juga melibatkan kekurangan dalam ukuran- ukuran kebudayaan dan kejiwaan (psikologi) dan memberikan corak tersendiri pada kebudayaan yang ada serta diwariskan dari suatu generasi ke generasi berikutnya sehingga terciptalah “budaya kemiskinan” (Suparlan, 1993:29-48). Hal ini senada dengan apa yang di katakana salah satu ahli disiplin ilmu sosiologi Bapak Khalili KN, guru sosilogi pesantren An-Nuqayah slah satu pesantren besar di Madura mengatakan bahwa uang tidak menjadi segalanya, namun hampir menjadi segalanya. Karena hal itulah banyak masyarakat di Negara ini mengalami himpitan ekonomi dan tak sedikit pula dari mereka yang menjadi pengangguran, bukan hanya factor itu yang menjadi penyumbang angka pengguran di negeri ini. Masih ada factor lain, salaha satunya ketidak cukupannya lapangan pekerjaan,angka PHK yang semakin meningkat setiap tahunnya dan masih banyak yang lainnya.


        Tak sedikit dari mereka yang melakukan pekerjaan apupun untuk menjadi penopang dan pelanjut hidup mereka, ada yang kerja serabutan, memulung, bercocok tanam dan yang lebih tragis mengemis dipandang baik (halal) untuk menjadi pekerjaan meraka. Orang yang mengemis (pengemis) tidak sedikit dari mereka kita temui di berbagai titik kota-kota besar seperti di jakata, Surabaya dan kota-kota besar lainnya, ada yang di pasar-pasar, lampu merah dan pusat-pusat keramaian lainnya.


        Namun bukan tidak ada dari meraka yang mengemis di jadikan pekerjaan sampingan lantaran pekerjaan utama mereka dipandang tidak menghasilkan penghasilan yang memuaskan atau karena pekerjaan merka itu musiman. Dan jangan heran seandainya jalan kesalah satu daerah yang terkenal dengan sebutan “desa pengemis” tidak sedikit anda akan temui rumah-rumah yang besar dan kokoh berdiri dengan megahnya bahkah sampai lengkap denagn fasilitas lainnya seperti alat kendaraan berupa mobil. Tidak salah jika anda berfikir jika semua kemewahan itu di peroleh dengan cara mengemis.


        Di Madura tepatnya di kabupaten paling timurnya, di sana ada sebuah desa yang di juluki sebagai “desa pengemis” tidak heran kenapa di sana dijuluki sebagai desa pengemis, karna memang di sana mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai pengemis, bukannya tidak ada pekerjaan lain, namun mereka lebih mengandalkan pekerjaan itu dari pada pekerjaan musiman meraka (bercocok tanam) atau pekerjaan lainnya. Daerah yang biasa di jadikan tempat meraka mengemis biasanya tidak terlepas dari pulau jawa, namun tidak jarang pula dari mereka yang nekat mengadu nasib dengan mengemis ke luar pulau jawa seperti bali, Sumatra, aceh, Kalimantan, dan masih banyak temapat dan derah lainnya. Namun yang terbayak biasanya di pulau jawa, bali, Sumatra dan Kalimantan. Kalo sudah di bilang tempat itu masih jarang orang kayak gitu (mengemis) maka tempat itu menjadi tempat strategis bagi mereka dalam hal mengemis.




        Pasti pembaca sekalian heran kenapa hanya dengan mengemis bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas mewah seperti itu, padahal pekerjaan meraka hanya mengemis? metode apasih yang mereka gunakan sehingga mendapatkan hasil yang menjanjikan bahkan memuaskan?


        Metode meraka berfariasi dalam menjalankan usaha meraka (mengemis) bukan hanya sekedar duduk di pinggir jalan dan mengadahkan tangan saja, tidak. Ada di antara meraka yang menggunakan motode atau berkedok sebagai penagih amal masjid,anak yatim piatu, dan biasanya mereka berpakain rapi serta menggunakan map amplop sebagai senjata uama. Ada juga yang menggunkan jasa anak sewaan, cacat yang di buat-buat dan yang paling miris menurut saya adalah ada di antara meraka yang menggunakn cacat asli fisiknya sebagai modal mengemis mereka.



        Masalah hasil jangan di Tanya lagi kalo sudah tau berbagai cara meraka dalam mengemis. Kalo lagi mujur ada salah satu nara sumber kami mengatakan biasanya sampai dapat 2-5 jutaan tiap bulannya untuk yang menggunakan jasa map, kalo yang mengguanakan metode nongkrong di jalan-jalan atau di pusat keramaian lainnya biasanya tiap bulanya 4-7 jutaaan tiap bulannya.

         Aparatur Negara sebenarnya mengetahui denga budaya mengemis ini, namun mereka hanya memberikan tindakan berupa peraturan yang melarang mereka mengemis tampa memberikan solusi nyata akan permasalahan ini. Walaupun tidak bisa mengahapus budaya ini aparatur Negara masih bisa menekan angka pengemis dengan memberikan lapanga pekerjaan yang menjanjikan bagi mereka, sehingga meraka tidak perlu lagi mengandalkan pekerjaan itu untuk menjadi penopang utama meraka dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-harinya.Thanks....... ^_^
Read more
Generasi-Generasi Pengasuh PP Miftahul 'Ulum Bettet

Perjalanan Generasi Kepengasuh PP Miftahul 'Ulum Bettet



foto by; eMadura.com


Pergantian pengasuh pesantren sudah menjadi hal biasa sebenarnya namun masih perlu untuk kita ketahui bersama, baik dari pergantian pengasuh yan pertama sampai pergantian pengasuh yang berikut-berikutnya. Sejak berdirinya pondok pesantren yang kita ketahui sebagai pesantren Bettet ini sudah mengalami berkali-kali perubahan kepengurusan pengasuh. Pergantian yang yang sudah berkali-kali ini sudah melalui kurun waktu sekitar 104 tahun lamanya, berdiri sejak tahun 1912, 33 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia sampai sekarang. Dengan pendirinya  R.K.H M siradjuddin sebagai pengasuh yang pertama kali sampai pengasuh yang sekarang, yang di pegang oleh majjlis keluarga pesantren. Adapun deretang pengasuh yang sudah menjadi pengasuh di pesantren ini adalah sebagai berikut;


  1. R.K.H M siradjuddin (1884-1957)

           Beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh yang pertama untuk pesantren Miftahul 'Ulum Bettet Pemekasan, beliau mengasuh pesantren ini selama kurun waktu kurang lebih 45 tahun lamanya, yang kemudian beliau akan di gantikan oleh putra beliau yang ketiga.


  2. R.K.H Hefni siradj (1928-1984)

            Putra dari pasangan Kiai Siradj dan Nyi Masr'ah ini menjadi pengasuh Pesantren Miftahul 'Ulum Bette selam kurang lebih 27 tahun setelah wafatnya ayah handanya beliau yaitu Kia Siradj. Berhubung Kiai Hefni tidak memiliki putra laki-laki maka pengganti dari beliau selanjutnya di pegang oleh menantu dari putri beliau Nyi Hajjah Khodijah.

 

3. R.K.H Abd Hamid Mue'in (1949-2004)

           Pengasuh yang ketiga ini  adalah anak menantu dari Kiai Hefni yang kebetulan tidak memiliki anak laki-laki sama sekali, beliau menjadi pengasuh selama kurang lebih 20 tahun lamanya yang kemudian akan di ganti oleh putra beliau yang akan menjadi pengasuh Pesantren yang berikutnya atau yang keempat.


4. R.K.H Moh 'Ali Abd hamid (1980-2014)

           Adalah pengasuh setelah menggantikan ayah handanya yang wafat, beliau menjadi satu-satunya pengasuh Pesantren Miftahul 'Ulum Bettet yang meninggal di waktu muda. Beliau menjadi pengasuh hanya selama  10 tahun lamanya, pada masa setelah wafatnya beliau bisa disebut masa kekosongan, karena pada masa itu ahli warits kepengasuhan belum bisa di amanahkan kepada keturunannya, lantaran anak laki-laki tertua Kiai 'Ali masih terlalu belia. Oleh karena itu pula kepengasuhan pesantren untuk sementara waktu di pegang oleh ibunda beliau yaitu istri dari Kiai Hamid yaitu Nyi Hj Faridah yang sehari-harinya di bantu oleh Majjlis Keluarga.


          Itulah generasi kegenarasi kepengasuhan Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Bettet Pemekasan yang dari pengasuh sekaligus pendiri pesantren yang pertama, semoga bermamfaat dan jangan lupa nantikan pengulasan perjalanan dari pengasuh yang pertama sampai yang sekarang...... ^_^
Read more
Jumat, 11 Maret 2016
Generasi Pertama dan Kedua PP. Miftahul 'Ulum Bettet

Generasi Pertama dan Generasi yang Kedua Pengasuh Pesantren Mifahul 'Ulum Bettet.

 by; syimi_pp_miftahul 'ulum bettet

            Sebenarnya sudah menjadi hal yang sangat biasa jikalau kita membicarakan pergantian generasi, dari generasi yang pertama, generasi yang kedua sampai generasi-generasi yang berikutnya.  Pada postingan kita yang sebelumnya kita sudah membahas generasi kegenerasi kepengasuhan Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Bettet dari mulai pengasuh sekaligus pendiri pertama Pesantren sampai dengan pengasu Pesantren yang sekarang setelah wafatnya Kiai 'Ali. Namun hal itu tidak kita bahas dengan secara lebih terperinci dngan disertai data-data yang autentik, maka atas dasar hal itulah pada kesempatan inilah kita akan membahas hal itu secara lebih terperinci dan lebih luas.


            Nah sekarang kami akan membahas kepengasuhan yang pertama sampai kepengasuhan yang kedua (untuk kali ini), yaitu dari R.K.H M Siradjuddin (1884-1957) samapi ke putranya atau yang lebih kita kenal dengan pengasuh yang kedua R.K.H Hefni Siradj (1928-1984).


            Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Bettet terletak dipinggira kota Pamekasan, tepatnya di Desa Bettet Kecamatan Kota Pamekasan. Yang didirikan oleh seorang tokoh yang sangat karismatik serta ulamak terkemuka, yaitu Raden Kiai Haji Siradjuddin bin Kiai Haji Nashruddin dengan paggilan Ki Siradj. Dibalik sosok imam yang hebat disitu pasti ada makmum yang hebat pula yaitu Istri (rajih madura-red) beliau,  Nyai Hajjah Muthmainnah / yang akrab di panggil Nyi Masri'a. Pengsuh pertama atau Kiai Haji Siradj atau pendiri pertama pesantren ini  mengasuh selama kurang lebih sekitar 45 tahun (1884-1957) sebelum beliau wafat dan digantikan oleh putranya.






                                      by; syimi_pp_miftahul 'ulum bettet








             Dari hasil pernikahannya Kiai Siradj dan Nyi Masri'ah, mereka di karunia empat anak, tiga putra dan satu putri. Putra yang pertama bernama Kiai Haji Zuhri yang menikahi Ny Hajjah Hanifah dari Pondok Pesanren Bustanul 'Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang dan Ny Hajjah 'Azzah dari Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Bangisan Tanggul Jember. Mereka dikerunia empat orang putra. Putra yang kedua adalah Kiai Haji Fadholi yang dinikahkan dengan Ny Hajjah Musfiwah dari  Pondok Pesantren Miftahul Qulub Polagan Galis Pemekasan yang di karunia dua orang putra dan dua orang putri.


             Putra yang ketiga adalah Kiai Haji Hifni yang dinikahkan dengan Ny Hajjah Khodijah  yang nantinya akan menjadi pengasuh pesantren selama kurang lebih selama 27 tahun (1928-1984). Dari hasil perkawinan ini mereka dikaruniai enam orang anak perempuan dan satu anak laki-laki, berhubung cuma anak yang nomer tiga (K. Hefni) inilah yang menetap di Bettet maka penerus dari kepengasuhan pesantren nantinya akan di gantikan oleh Kiai Haji Hifni untuk yang periode kedua, dari garis atau nasab keturunan  inilah yang nantinya akan menjadi penerus dari kepengasuhan Pondok Pesantren Miftahul  'Ulum Bettet. Dan anak yang terahir dari pasangan pengasuh pertama Pondok Pesantren Miftahul 'Ulum Bettet adalah Ny Marwiyah yang dinikahkan dengan Kiai Haji Mansyur dari Pondok Pesantren Banyu Ayu Pemekasan yang hanya di karunia dua orang  anak perempuan.


             Pembahasan secara luas dan terperinci tentang pengasuh yang pertama sampai pengasuh yang kedua kami rasa cukup. Jika ada salah atau kurang dari karya tulis yang kami buat, kami memohan maaf atas segalanya dan memohon dengan sangat dengan memberikan komentar serta saran atas kesalahan yang kami perbuat di tulisan ini, tolong sertakan komentar serta tanggapan saudara mengenai karya tulis kami ini. Atas perhatian dan kesudia teman teman untuk meluangkan waktu serta membaca kami haturkan banyak sekali terimakasih……….. sampai ketemu di postinga yang berikutnya….. ^_^


Read more
Senin, 22 Februari 2016
Sejarah Kampus Universitas Islam Madura.




Bagi mahasiswa Universitas Islam Madura baik masih baru ataupun mahasiswa yang lama yang, belum tahu menau mengenai masalah sejarah kampus yaitu Universitas Islam Madura tecinta kita. Maka patut kiranya teman-teman sesama kaum intlektual islam yang menjadi harapan bangsa dan ngara mengetahui sejarah kampus Uiiversitas Islam Madura, karna dengan kita mengetahui sejarah Uiniversitas Islam Madura maka kita dapat lisensi walaupun tidak secara resmi sebagai mahasiswa yang sebenarnya.
Maka dari itu atas dasr hal itulah saya berantusias untuk lebih mempublikasikan sejarah kampus saya ini untuk saya share keteman-teman yang lain agar gak hanya saya doang yang mendapat lisensi yang serupa.
Pada tahun akademik 1988/1989, Yayasan Universitas Islam Madura yang lebih di kenal dengan sebutan YUNISMA, yang didirikan oleh para tokoh-tokoh/sesepuh Ulama Nahdlatul Ulama Cabang Pamekasan, yang itu terdiri dari lima ulamak yang karismatik antara lain, al-Marhum:
·         Drs. KH. SHIDQI MUDHAR, Pengasuh PP. Al-Huda, Sumber Nangka Duko Timur, Larangan Pamekasan.
·         KH. AHMAD SYARQOWI, MA. Pengasuh PP. Matsaratul Huda, Panempan Pamekasan.
·         KH. ASY'ARI, Pengasuh PP. Kebun Baru, Palengaan Pamekasan.
·         RKH. ABD. HAMID MU'IN, Pengasuh PP. Miftahul Ulum Bettet Pamekasan.
·         KH. MOH. LUTHFI THOHA, Pengasuh PP. Suber Gayam, Kadur Pamekasan.

Para al-marhumin telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam yang diberi nama UNISMA (Universitas Islam Madura) Pamekasan pada tanggal 30 April 1988, dengan surat keputusan nomor : 03/YUNISMA/IV/1988 dengan 2 (dua) Fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah (Jurusan Agama Islam) dan Fakultas Syari'ah (Jurusan Peradilan Agama). Karena pada saat itu ada aturah baru tentang pendirian Universitas, pada tahun itu juga UNISMA dirubah menjadi Institut Islam Madura (IIM) YUNISMA (tetap di ikuti nama YUNISMA dibelakangnya) dengan kedua fakultas dan jurusan yang sama. Untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam mendirikan sebuah Institut (IIM YUNISMA) pada waktu itu masih banyak mengalami kendala yang akhirnya pada tahun 1989 IIM YUNISMA di ubah lagi menjadi Sekolah Tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dengan Prof. Drs. H. Sunardji Dahri Tiam, sebagai ketua, dan Drs. KH. Kholilurrahman, SH. sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah (STIS) dengan nama (STIT-STIS YUNISMA), dan mendapatkan statusTerdaftar berdasarkan surat keputusan mentri agama RI, Nomor : 207 Tahun 1991 yang berlokasi di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Kabupaten Pamekasan.
Dalam perkembangannya, STIT-STIS YUNISMA berdasarkan Surat Keputusan Mentri Agama RI Nomor : E/188/1996 tanggal 12 Nopember 1996 di lebur menjadi satu, bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) YUNISMA Pamekasan dengan kedua Jurusan/Prodi yang ada, sehingga mendapat Status Akreditasi (peringkat B) dari BAN-PT Depdikna RI Nomor : 004/BAN-PT/AK-IV/IV/2000 untuk prodi Ahwal As Syakhsyiyyah dan Nomor : 006/BAN-PT/AK-IV/IV/2000 untuk prodi PAI.

Mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi aspirasi masyarakat maka Yayasan Universitas islam Madura mulai tahun akademik 2000/2001 mengembangkan dan mengubah bentuk STAI-YUNISMA menjadi Universitas Islam Madura (UIM) dengan surat rekomendasi kopertis wilayah VII Jawa Timur Nomor : 0949/007/AK/2000, membuka 6 Fakultas dan 12 Jurusan/Prodi, kemudian mendapat Ijin Pendirian Universitas dari Mendiknas RI Nomor : 59/D/2002 Tanggal 4 April 2002. dengan Rektor Prof. Drs. H. Sunardji Dahri Tiam sampai dengan akhir tahun 2003 dan setelah itu di ganti oleh Drs. H. M. Sahibuddin, SH., M.Pd. untuk periode 2003-2007 dan 2007-2011 serta di perpanjang sampai dengan tahun 2013. Di akhir tahun 2013 Universitas Islam Madura melakukan pemilihan rektor baru dan terpilih Ahmad, S.Ag., M.Pd. yang sebelumnya menjabat Pembantu Rektor II.
Read more
Selasa, 02 Februari 2016
Biografi Ibnu Sina Ilmuan dan Filsuf Islam



Biografi Ibnu Sina Ilmuwan & filsuf Islam

Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan Muslim yang terkenal di dunia. Ibnu Sina juga merupakn seorang ilmuwan dengan pemikiran-pemikiran yang cerdas mendasari ilmu kedokteran modern. Ia banyak disebut sebagai "Bapak Kedokteran Modern." George Sarton menyebutnya sebagai "Ilmuwan Paling Terkenal dari Islam dan Salah Satu yang Paling Terkenal Pada Semua Bidang Tempat, dan Waktu". Ia lahir pada zaman keemasan peradaban Islam, sehingga ia disebut sebagai tokoh Islam dunia.

Ibnu Sina juga seorang penulis yang produktif, sebagian besar karyanya membahas tentang filsafat dan pengobatan. Ia adalah satu-satunya filsafat besar  dalam Islam yang berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim hingga beberapa abad. Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai Qanun yang digunakan sebagai Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad. 

Image courtesy of www.google.com

Biografi Ibnu Sina

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā. Ibnu Sina lahir pada 980 M di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia). Ia berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Orang tuanya adalah seorang pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Ia dibesarkan di Bukharaja serta belajar falsafah dan ilmu-ilmu agama Islam.

Saat berusia 10 tahun dia banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal Al-Qur'an. Ia dibimbing oleh Abu Abdellah Natili, dalam mempelajari ilmu logika untuk mempelajari buku Isagoge dan Prophyry, Eucliddan Al-Magest Ptolemus. Setelah itu dia juga mendalami ilmu agama dan Metaphysics Plato dan Arsitoteles.

Suatu ketika dia mengalami masalah saat belajar ilmu Metaphysics dari Arisstoteles. Empat Puluh kali dia membacanya sampai hafal setiap kata yang tertulis dalam buku tersebut, namun dia tidak dapat mengerti artinya. Sampai suatu hari setelah dia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870 - 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala ilmu Metaphysics.

Setelah berhasil mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, Ibnu Sina merasa tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran. Ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya. Meskipun secara teori dia belum matang, tetapi ia banyak melakukan keberhasilan dalam mengobati orang-orang sakit. Setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, maka didalam tidurnya Allah memberikan pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya.

Suatu ketika saat Amir Nuh Bin Nasr sedang menderita sakit keras. Mendengar tentang kehebatan yang dimiliki oleh Ibnu Sina, akhirnya dia diminta datang ke Istana untuk mengobati Amir Nuh Bin Nasr sehingga kesehatannya pulih kembali. Sejak itu, Ibnu Sina menjadi akrab dengan Amir Nuh Bin Nasr yang mempunyai sebuah perpustakaan yang mempunyai koleksi buku yang sangan lengkap di daerah itu. Sehingga membuat Ibnu Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istana yang terlengkap yaitu Kutub Khana. 

Berkat perpustakaan tersebut, Ibnu Sina mendapatkan banyak ilmu pengetahuan untuk bahan-bahan penemuannya. Pada suatu hari perpustakaan tersebut terbakar dan orang-orang setempat menuduh Ibnu Sina bahwa dirinya sengaja membakar perpustakaan tersebut, dengan alasan agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.

Ibnu Sina lahir di zaman keemasan Peradaban Islam. Pada zaman tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. 

Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan. Pada zaman Dinasti Samayid dibagian timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat Iran dan Persian memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.

Saat berusia 22 tahun, ayah Ibnu Sina meninggal dunia. Pemerintahan Samanid menuju keruntuhan. Masalah yang terjadi dalam pemerintahan tersebut akhirnya membuatnya harus meninggalkan Bukhara. Pertama ia pindah ke Gurganj, ia tinggal selama 10 tahun di Gurganj. Kemudia ia pindah dari Gurganj ke Nasa, kemudian pindah lagi ke Baward, dan terus berpindah-pindah tempat untuk mempelajari ilmu baru dan mengamalkannya.

Shams al-Ma’äli Qäbtis, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibnu Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ia sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, ia bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri di mana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini, dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.


Image courtesy of www.google.com

Kemampuan Dalam Bidang Kedokteran dan Filsafat

Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit Thibb, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis. Kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam.

Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang masih belum terjawab sebelumnya. Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. 

Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filsafat besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.

Image courtesy of www.google.com

Karya-karya dari Ibnu Sina

Karya yang ditulis oleh Ibnu Sina diperkiranan antara 100 sampai 250 buah judul. Karya-karya Ibnu Sina yang terkenal dalam Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat, dan Al-Isyarat. Karyanya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Qanun. Kualitas karyanya yang bergitu luar biasa dan keterlibatannya dalam praktik kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukkan tingkat kemampuan yang luar biasa. Selain itu, ia banyak menulis karangan-karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Beberapa Karyanya diantara lain :

  1. Al-Qanun fi Thib (aturan pengobatan)
  2. Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  3. Al-Inshaf (buku tentang keadilan sejati)
  4. An-Najah (buku tentang kebahagiaan Jiwa)
  5. Al-Musiqa (Buku tentang musik)
  6. dan sebagainya.

Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah :
  1. Hayy ibn Yaqzhan
  2. Risalah Ath-Thair
  3. Risalah fi Sirr Al-Qadar
  4. Risalah fi Al- 'Isyq
  5. Tahshil As-Sa'adah

Beberapa karya puisinya yaitu :
  1. Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
  2. Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
  3. Al-Qasidah Al- 'Ainiyyah

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina memperoleh penghargaan yang tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filsafat besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. Kehidupan Ibnu Sina dihabiskan untuk urusan negara dan menulis. Pada usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Assalamualikum. Informasi Biografi di atas ini kami tulis dari berbagai sumber, jika ada kesalahan atas informasi yang kami sampaikan di atas, kami mohon maaf, dan berharap agar Anda bisa membetulkannya melalui kotak komentar atau bisa menghubungi kami melalui e-mail kami. Terima kasih.

www.biografipedia.com

Read more